14 December 2014

sedikit mampir sedikit ilmu banyak mampir banyak ilmu terimakasih telah membuka blok sederhana ini ..


AMARAH TERAKHIR “ SAHABAT”
“ Kok jadi wanita oon banget sih kamu Mala” Ia menyeretku dan menggenggam tanganku erat, “ Mala !!! ayo pergi, ayo pergi!!” bentaknya sambil menggenggam tanganku dan meyeretku. Genggamannya sangat kukenali ketika itu, genggaman yang tak menyuruhku untuk terpuruk dan sengsara. Aku tidak melepas genggaman itu, dan aku menuruti langkahnya membawa aku pergi, aku tau seberapa marah ia padaku yang tak pernah mendengarkan perkataannya selama ini tentang masalah cintaku.
            “Mala! Seperti apa sih kamu ini, seperti apa???” bentaknya sambil berjalan menyeretku,
“ terlalu oon kamu duduk disana menunggu orang yang entah sekarang ada dimana, kamu itu nggak pernah mau mendengarkan omongan ku” dengan nada tinggi dan terus saja membawaku berjalan menuju sebuah kantin. Aku hanya diam dan terisak dengan tangisku yang kuluapkan hingga tak tersisa.
            Amarahnya masih membara, tampak dari sorot matanya yang sesekali melirikku, gaya bicaranya kepada ibu kantin untuk memesan secangkir teh, aku duduk tepat disebelahnya, masih kutundukkan kepalaku dan menahan tangis hingga tersedu-sedu, kuangkatkan kepalaku dan mulai berbicara padanya setelah ia memberikan aku secangkir teh.
“ Ra, aku kira ia berbeda, aku kira ia tulus dan serius..,” perlahan aku bicara dan masih sesekali menarik nafas karena habis menangis.
“ Mala, yang berbeda itu memang ada, tapi bukan dia yang sudah kita kenal lama. Sudahlah minum dulu tehnya! Sambil memegang secangkir teh ditangannya dan menyeruptnya. Akupun juga menyeruput teh sambil sedikit gemetaran. Kulihat ia meminum teh tersebut dan tampak sesekali ia menghela nafas yang membuat aku merasa bersalah, semua adalah salahku yang terlalu percaya kepada laki-laki. Ini bukan kali pertama aku mersakan hal seperti ini dan melihat Rara marah seperti ini, tahun lalu aku juga merasakan seperti ini juga.
“pulang yuk, La apa lagi yang mau ditunggu disini” perkataannya yang sedikit menyindirku dan tidak lain aku hanya bisa menundukkan kepalaku.
***
“ Mala, Mala” terkaget aku mendengar suara yang hampir tiap malam datang menemuiku,  langkah  yang langsung menuju kekamarku. Rara lansung duduk diatas kasurku dan menatapku cukup lama dengan menggeleng-gelengkan kepalanya dan sedikit tersungging senyum dibibirnya. Aku malu melihat ia seperti itu, sangking malunya aku langsung menundukkan wajahku dan berbalik arah membelakanginya.
“ hahahaha….,” sambil mulai mendekatiku masih terus tertawa, kemudian ia mencoel daguku seperti merayuku ” La, apa kabarmu????” sambil tertawa kecil.
“baik, kenapa kamu mentertawaiku sih Ra?? Emangnya selucu itu ya kisahku??? “
“ nggak lucu sih…,”
“ TERUS!!!”
“emmmmm, kasih tau nggak ya….”
“ kok kayak subro di dangdut academi sih, serius Ra..” seruku ingin membela.
“ kata sapa yang begitu Cuma Subro, Sudir juga begitu kok hhehe….”
            “ Sudir siapa lagi, kawan barumu?? Ra biasanya kamu kasih nasehat dan menghiburku”
            “ Sudir itu Suratan Takdir, suratan takdir dikecewain, suratan takdir di ingkarin, suratan takdir di PHPin hahahaa, aku nggak mau nasehatin kamu lagi” jawab Rara dengan santai dan sedikit menyindirku.
            “ Rara aku tau sama tapi mungkin ada revisi tambahan atau ada materi baru sebelum aku mengenal cinta lagi, yang jelas aku nggak mau lama-lama jomblo “ jawabku sedikit membela diri dan menyindirnya kembali.
 “ hahahaha…. Nggak ada revisi La aku Cuma bisa bilang gitu aja, ya nggak apa aku Jomblo, jomblo nggak dosa kok, nggak nayapekin hati”
            Obrolan kami semakin seru hingga larut malam, dan Rara memutuskan menginap dirumahku walau rumahnya berhadapan dengan rumahku.
***
            Saat subuh Rara langsung ingin pulang dan berpamitan padaku,  “ La, aku pulang ya, oh ya ntar kekampusnya duluan aja. Aku diantar sama ayahku, oke Mala cantik” sambil menyubit pipiku.
Aku menundukkan kepalaku. Beberapa saat ia pergi aku langsung bersiap-siap kekampus. Aku belum memiliki kecurigaan terhadap Rara dari semalam dan curigaku datang ketika jam pertama ia tak juga datang hinggga habis satu mata kuliah, dan kulihat ada pesan singkat,
            Mala, belajar yang benar ya, jangan kecewakan orangtuamu, nanti saja pacarannya ketika air matamu sudah tidak keluar saat patah hati karena cinta. Sebab ketika kamu jatuh cinta maka bahagia dan kecewa adalah satu paket. Mala malam tadi aku senang sekali ternyata kamu benar-benar yang paham aku, dan membuat kau tertawa bagahgia, Mala aku sayang kamu
Pesan singkat yang panjangnya hingga dua layar pesan  ini mebuat aku langsung menangis dan tersentak bingung ada apa sebenarnya dengan Rara, aku langsung pulang tanpa harus memikirkan mata kuliah berikutnya. Ketika aku akan mengendarai motorku sebuah pesan datang di hpku
            La mama dirumah sakit M. Yunus melihat Rara, kamu kesini aja
Langsung  kubawa motorku dengan kecepatan yang cukup kencang, hingga aku tiba dirumah sakit  dan tepat diruang ICU aku melihat sosok sahabatku berbaring lemah tidak berdaya, air mataku tidak tertahan butiran ini jatuh tidak terasa lagi, ditambah ia menyambutku dengan senyuman dan menderai air mata aku semakin terpukul dan tidak bisa menahan tangisku. Aku lansung memeluknya dengan erat dan menangis dibadannya.
            “ Rara kamu kenapa??? Kenapa kamu nggak pernah cerita Ra Rara memegang erat tanganku dan menatapku.
            “ Mala, maaf aku memang nggak mau kamu tau. Aku nggak mau kamu sedih, La aku kenak kangker otak, La terimakasih kamu telah menjadi sahabat terindahku, aku beruntung memilkimu La” suaranya terseret-seret mengucapkan kalimat itu, dan air mataku mengalir tak terkira.
            “ aku capek, La….., nggak apa kan La” matanya terpejam sambil tersenyum dan  nafasnya terhenti, sontak aku histeris menangis dalam, tersadar bahwa tadi malam adalah malam perpisahnya, ia berpamitan dengan indah kepadaku tawa yang girang semalam adalah tawa terakhirnya, pesang singkat itu adalah pemberian terakhir darinya. Sahabat seperti apa aku, colekan semalam adalah rayuannya padaku yang terakhir, dan tak ada revisi nasehat untukku karena ia tahu batas waktu ini batas waktu yang takkan pernah kembali menjadi waktu. Sahabat macamapa aku, tidak mengerti keadaan ini. Rara sahabatku sang penasehat cintaku dan sang pemerhati diriku, penyesalan yang begitu dalam ini mengiringi kepergiannya menuju tempat akhirnya. Selamat jalan sahabatku
 ini merupakan cerpen pertama yang aku buat dan aku ikut kan lomba tapi alhamdulillah belum masuk untuk dicetak.

No comments:

KANGEN ITU SEPERTI IKATAN air DAN minyak

sedikit mampir sedikit ilmu banyak mampir banyak ilmu terimakasih telah membuka blok sederhana ini ..  2018... Sudah berakhir 2 bulan ya...