sedikit mampir sedikit ilmu banyak mampir banyak ilmu terimakasih telah membuka blok sederhana ini ..
AMARAH TERAKHIR “ SAHABAT”
“
Kok jadi wanita oon banget sih kamu Mala” Ia menyeretku dan menggenggam tanganku
erat, “ Mala !!! ayo pergi, ayo pergi!!” bentaknya sambil
menggenggam tanganku dan meyeretku. Genggamannya sangat kukenali ketika itu,
genggaman yang tak menyuruhku untuk terpuruk dan sengsara. Aku tidak melepas
genggaman itu, dan aku menuruti langkahnya membawa aku pergi, aku tau seberapa
marah ia padaku yang tak pernah mendengarkan perkataannya selama ini tentang
masalah cintaku.
“Mala!
Seperti apa sih kamu ini, seperti apa???” bentaknya
sambil berjalan menyeretku,
“
terlalu oon kamu duduk disana menunggu orang yang entah sekarang ada dimana,
kamu itu nggak pernah mau mendengarkan omongan ku” dengan nada tinggi dan terus
saja membawaku berjalan menuju sebuah kantin. Aku hanya diam dan terisak dengan
tangisku yang kuluapkan hingga tak tersisa.
Amarahnya
masih membara, tampak dari sorot matanya yang sesekali melirikku, gaya
bicaranya kepada ibu kantin untuk memesan secangkir teh, aku duduk tepat disebelahnya,
masih kutundukkan kepalaku dan menahan tangis hingga tersedu-sedu, kuangkatkan
kepalaku dan mulai berbicara padanya setelah ia memberikan aku secangkir teh.
“
Ra, aku kira ia berbeda, aku kira ia tulus dan serius..,” perlahan aku bicara
dan masih sesekali menarik nafas karena habis menangis.
“
Mala, yang berbeda itu memang ada, tapi bukan dia yang sudah kita kenal lama.
Sudahlah minum dulu tehnya!”
Sambil memegang secangkir teh
ditangannya dan menyeruptnya. Akupun juga
menyeruput teh
sambil sedikit gemetaran.
Kulihat ia meminum teh
tersebut dan tampak sesekali ia menghela nafas yang membuat aku merasa
bersalah, semua adalah salahku yang terlalu percaya kepada laki-laki. Ini bukan
kali pertama aku mersakan hal seperti ini dan melihat Rara marah seperti ini,
tahun lalu aku juga merasakan seperti ini juga.
“pulang
yuk, La apa lagi yang mau ditunggu disini” perkataannya yang sedikit
menyindirku dan tidak lain aku hanya bisa menundukkan kepalaku.
***
“
Mala, Mala” terkaget aku mendengar suara yang hampir tiap malam datang
menemuiku, langkah
yang langsung
menuju kekamarku. Rara lansung
duduk diatas kasurku dan menatapku cukup lama dengan menggeleng-gelengkan
kepalanya dan sedikit tersungging senyum dibibirnya. Aku malu melihat ia
seperti itu, sangking malunya aku langsung menundukkan wajahku dan berbalik
arah membelakanginya.
“ hahahaha….,” sambil mulai mendekatiku
masih terus tertawa, kemudian ia mencoel daguku seperti merayuku ” La, apa kabarmu????”
sambil tertawa kecil.
“baik, kenapa kamu mentertawaiku sih
Ra?? Emangnya selucu itu ya kisahku??? “
“ nggak lucu sih…,”
“ TERUS!!!”
“emmmmm, kasih tau nggak ya….”
“ kok kayak subro di dangdut academi
sih, serius Ra..” seruku ingin membela.
“ kata sapa yang begitu Cuma Subro,
Sudir juga begitu kok hhehe….”
“
Sudir siapa lagi, kawan barumu?? Ra biasanya kamu kasih nasehat dan
menghiburku”
“
Sudir itu Suratan Takdir, suratan takdir dikecewain, suratan takdir di
ingkarin, suratan takdir di PHPin hahahaa, aku nggak mau nasehatin kamu lagi” jawab
Rara dengan santai dan sedikit menyindirku.
“
Rara aku tau sama tapi mungkin ada revisi tambahan atau ada materi baru sebelum
aku mengenal cinta lagi, yang jelas aku nggak mau lama-lama jomblo “ jawabku
sedikit membela diri dan menyindirnya kembali.
“
hahahaha…. Nggak ada revisi La aku Cuma bisa bilang gitu aja, ya nggak apa aku
Jomblo, jomblo nggak dosa kok, nggak nayapekin hati”
Obrolan
kami semakin seru hingga larut malam, dan Rara memutuskan menginap dirumahku
walau rumahnya berhadapan dengan rumahku.
***
Saat
subuh Rara langsung ingin pulang dan berpamitan padaku, “
La, aku pulang ya, oh ya ntar kekampusnya duluan aja. Aku diantar sama ayahku,
oke Mala cantik” sambil menyubit pipiku.
Aku menundukkan kepalaku. Beberapa saat
ia pergi aku langsung bersiap-siap kekampus. Aku belum memiliki kecurigaan
terhadap Rara dari semalam dan curigaku datang ketika jam pertama ia tak juga
datang hinggga habis satu mata kuliah, dan kulihat ada pesan singkat,
“Mala,
belajar yang benar ya, jangan kecewakan orangtuamu, nanti saja pacarannya
ketika air matamu sudah tidak keluar saat patah hati karena cinta. Sebab ketika
kamu jatuh cinta maka bahagia dan kecewa adalah satu paket. Mala malam tadi aku
senang sekali ternyata kamu benar-benar yang paham aku, dan membuat kau tertawa
bagahgia, Mala aku sayang
kamu”
Pesan singkat
yang panjangnya hingga dua layar pesan
ini mebuat
aku langsung menangis dan tersentak bingung ada apa sebenarnya dengan Rara, aku
langsung pulang tanpa harus memikirkan mata kuliah berikutnya. Ketika aku akan
mengendarai motorku sebuah pesan datang di hpku
“La
mama dirumah sakit M. Yunus melihat Rara, kamu kesini aja”
Langsung kubawa motorku dengan kecepatan yang cukup
kencang, hingga aku tiba dirumah
sakit dan
tepat diruang ICU aku melihat sosok sahabatku berbaring lemah tidak berdaya, air mataku tidak
tertahan butiran ini jatuh tidak terasa lagi, ditambah ia menyambutku dengan
senyuman dan menderai air mata aku semakin terpukul dan tidak bisa menahan
tangisku. Aku lansung memeluknya dengan erat dan menangis dibadannya.
“
Rara kamu kenapa??? Kenapa kamu nggak pernah cerita Ra “Rara memegang erat
tanganku dan menatapku.
“
Mala, maaf aku memang nggak mau kamu tau. Aku nggak mau kamu sedih, La aku
kenak kangker otak, La
terimakasih kamu telah menjadi sahabat terindahku, aku beruntung memilkimu La”
suaranya terseret-seret mengucapkan kalimat itu, dan air mataku mengalir tak
terkira.
“
aku capek, La….., nggak apa kan La” matanya terpejam sambil tersenyum dan nafasnya terhenti, sontak aku histeris
menangis dalam, tersadar bahwa tadi malam adalah malam perpisahnya, ia
berpamitan dengan indah kepadaku tawa yang girang semalam adalah tawa terakhirnya,
pesang singkat itu adalah pemberian terakhir darinya. Sahabat seperti apa aku,
colekan semalam adalah rayuannya padaku yang terakhir, dan tak ada revisi
nasehat untukku karena ia tahu batas waktu ini batas waktu yang takkan pernah
kembali menjadi waktu. Sahabat macamapa aku, tidak mengerti keadaan ini. Rara
sahabatku sang penasehat cintaku dan sang pemerhati diriku, penyesalan yang
begitu dalam ini mengiringi kepergiannya menuju tempat akhirnya. Selamat jalan
sahabatku
ini merupakan cerpen pertama yang aku buat dan aku ikut kan lomba tapi alhamdulillah belum masuk untuk dicetak.


No comments:
Post a Comment