sedikit mampir sedikit ilmu banyak mampir banyak ilmu terimakasih telah membuka blog sederhana ini ..
kangen uploud... kangen nyebarin kata-kata...
ini adalah cerpen ke dua yang keterima di salah satu buku terbitan indie.. bangga sih, dan sekarang lagi berjuang buat ke mayor.. Doain yaaaaa......
SANG PEMILIK RASA
Aku
ini ada yang memiliki, kamu juga ada yang memiliki, sang pemilik kita sama. Aku
akan merayu sang pemilikmu untuk mendapatkanmu, jika tidak bersamamu maka semua
akan kukembalikan pada sang pemilik rasa
“Assalamualaikum dek” suara yang kudengar
dari poselku pagi itu. telepon yang tiba-tiba berdering dipagi hari. Sabtu itu
tiba-tiba pelangi menghampiriku, jantung berdetak tak karuan ketika melihat
nama yang meneleponku.
“Waalaikumsalam kak” jawabku dengan nada
lembut dan sedikit gugup menjawab telepon dari kak Ligan.
“adek
kenapa nggak jadi ikut oriabanya” ucap kak Ligan sedikit penasaran.
“emm.... besok senin mau kuis kimia
dasar kak, jadi besok mau belajar” jelasku dengan kak Ligan.
Suaraku sedikit berubah menjadi sendu,
karena aku sebenarnya ingin mengikuti oriaba organisasi tersebut dan bercampur
dengan rasa bahagiaku yang tiba-tiba menghampiriku dengan rasa yang sedikit
aneh, entahlah rasa apa yang sedang menghampiri hati milik Allah ini.
“kan belajarnya bisa malamnya dek,
ayolah ikut dek... kakak doakan kamu dapat 100” ajaknya kepadaku sedikit
merayu. Mendengarkan nada dan kata-kata itu sebagai wanita yang hanya manusia
biasa ada beberapa gelombang yang membuat bibir tersenyum, hati gembira, dan
ingin loncat-loncat.
“ya udah kak, insyaAllah Mei ikut”
jawabku.
“ok, kakak tunggu kehadirannya besok,
wassalam” sahutnya dan segera mengakhiri teleponnya kepadaku.
Setelah telepon tersebut, aku
benar-benar sedikit aneh, bisa jadi karena koneksi otakku telah dikalahkan oleh
sinyal perasaanku. Perasaan ini membuat aku penasaran kenapa kak Ligan sampai
meneleponku menyuruhku ikut oriaba tersebut, akhirnya aku menghubungi sahabatku
Eka untuk menanyakan apakah dia juga dihubungi oleh kak Ligan, tenyata tidak. Malam
datang dan masih saja aku memikirkan dia, dia makhluk adam yang kukenal setelah
memasuki dunia kuliahku, yang mampu mengalihkan pandanganku. Mengenalnya bagiku
merupakan cerita Allah, karena hingga memasuki dunia kuliah, aku masih tidak
percaya apakah aku memilih jurusan yang aku jalankan saat ini.
***
Hari minggu pun tiba, ORIABA organisasi
islami akan dilakukan. Aku dan Eka memutuskan untuk mengikuti ORIABA tersebut.
Hari itu antara wanita dan laki-laki dipisahkan, jadi tak terlihat dimana kak
Ligan itu berada. Setelah semua berkumpul, kami semua menuju lokasi tempat
ORIABA dilakukan, dilokasi itulah aku melihatnya dari kejauhan. Hari minggu ini
terasa berbeda mungkin terlalu berlebihan apa yang aku rasa, berkali-kali aku
beristighfar sesekali memejamkan mata untuk tidak memperhatikannya. Hati ini
mulai berkata, apa benar dia pemilik hati yang rapuh ini?, aku bagai terlilit
oleh lingkaran bunga yang wangi namun menggangguku. ORIABA itupun berjalan
lancar dan ketika akan melakukan shalat dhuhur kami berpapasan dimasjid untuk
mengambil wudhu, lagi-lagi aku bagai dihempas oleh lembutnya salju ketika
senyum itu ia torehkan kepadaku.
“akhirnya ikut juga..semoga besok
nilainya 100, aamiin” sambil senyum, sapa kak Ligan.
“iya
kak, makasih” jawabku dan langsung menuju tempat mengambil wudhu.
Sapaan singkat itu seperti menyambungkan
saraf antara saraf mata, dan hati dan memberikan efek pada bibir yang ingin
tersenyum selalu, astaghfirullah ada apa dengan hatiku sekarang, apakah sudah
mulai hilang keimananku, pemikiran tersebut terbesit difikiranku hingga aku
menyelesaikan shalat dan doaku, hingga acara tersebut berakhir masih saja ada
yang aneh dari hatiku.
***
Setelah acara tersebut, keesokkan
harinya aku benar-benar mendapatkan nilai 100. Sebuah kebetulan dari Allah yang
semakin meninggikan perasaanku. Kak Ligan adalah kakak tingkatku 2 tahun
diatasku dan beberapa acara jurusanku kami sering bertemu hingga praktikum kak
Ligan adalah asistennya. Saat itu ada praktikum yang ia asisten, hingga akhir praktikum
kak Ligan sama sekali tidak pernah menyebut namaku untuk mengerjakan sesuatu,
ia tidak pernah menyuruhku kedepan mengerjakan soal dan lain-lain mungkin saja
benci atau ntahlah, yang membuat beberapa temankku marah dan protes.
Certita yang tak pernah aku rencanakan, dan
ini murni skenario dari Allah yang kadang membuat aku nyesek, aku dan kak Ligan
menjadi permainan kakak tingkatku dan hampir seluruh mahasiswa jurusanku, yang
sering mengganggu dan bermain-main atas hal ini, digambarkan oleh mereka bahwa
aku dan kak Ligan memiliki hubungan khusus, padahal antara aku dan kak Ligan
tidak pernah ada apa-apa. Semua cerita itu aku jadikan sebagai doa, yang aku
aamiinkan. Semua menjadi seperti cerita yang seakan indah tapi hanya sebatas
permainan. Sifat kak Ligan yang amat baik, dan hanya tersenyum terkadang
membuat aku bingung apakah bener ada segores rasa, atau memang hanya permainan,
aku pasrah pada skenario Allah saja. Komunikasi antara aku dan kak Ligan
tidaklah spesial hanya sebatas antara adik tingkat dan seniornya, namun
beberapa kali ia mempercayaiku untuk membantunya.
Setelah ia tamat komunikasi kami masih lancar
namun baru kusadari, ketika bertemu, antara kami tidak berani untuk
berkomunikasi. Kami seperti tak saling mengenal termasuk aku, yang berat sekali
berkata-kata didepannya, ntahlah namun itu yang aku rasakan. Caranya
mengindahkan Allah SWT membuat aku jatuh hati padanya, dan sifatnya membuat aku
berani menyebut namanya dalam doaku. Kebaikan yang ia berikan hingga saat ini
bagiku spesial walau bagi ia tidak, karena ia baik pada semuanya. Fikiran ini
kadang bertanya apakah ia mampu membaca hati dalam diam ini, apakah ia mampu
melihat tertutupnya hati karenanya. Perhatian kadang ia berikan disaat
semangatku mulai melemah, bukan hanya ia yang rela atas waktunya menghandiri
undangan saat miladku yang saat itu ia harus les, namun ia meneleponku ketika
malam yang besoknya aku harus seminar proposal. Kenangan itu bagiku luar biasa
walau hanya aku yang rasa.
Bersamanya hanya Allah yang tau, selalu
aku percaya pada kata sahabatku “kalau dia tahu kamu cinta, terus mau ngapain?
Nikah? Emang sudah siap?” pesan ini yang membuat aku bertahan atas semua
harapanku pada kak Ligan, aku bertahan atas diam, dan semua keadaan yang hanya
permainan saja. Percaya pada cinta Allah, cinta yang tak pernah membuat sakit
hati, cinta yang tak membuat kecewa bahkan galau akut. Skenario Allah amat
indah, aku percaya. Aku selalu mengikuti setiap perjalanan atas perjuangannya
menggapai impiannya. Masing aku ingat saat aku KKN aku menerima pesan singkat
dari kak Ligan untuk berpamitan karena ia akan mengikuti tes pascasarjana. Saat
ini aku harus menadahkan kedua tanganku untuk meminta pada sang pemilik kita
untuk menjagamu, membahagiakanmu, dan mendamaikan hatimu disana setelah berpamitan
kak Ligan padaku baru-baru ini untuk pergi bekerja ke pulau Sambu meski
akhirnya skenario ini tak berakhir padamu aku sangat bersyukur telah mengenalmu
didalam hidupku, yang memberikan warna indah hidupku. Wallahu a'lam.
 |
| setiap Rasa pasti ada pemiliknya... Serahkan.. |
|
|